SAATNYA BERGERAK BERSAMA

Digital bukan sekadar era, melainkan sudah menyatu dengan kemampuan literasi itu sendiri tentang cara mendapatkan informasi daring secara bijak dan beretika. Internet, media sosial (medsos) dan alat-alat digital menjadi kebutuhan primer masyarakat modern. Dalam waktu 24 jam sehari, kita tak bisa lepas dari internet, ponsel dan medsos. Saking pentingnya internet, ada idiom “harta-tahta-kuota” sebagai kebutuhan dasar hidup.

Pada 2016, Facebook Indonesia melaporkan angka pengguna aktif bulanan jejaring sosial tersebut kini sudah mencapai angka 88 juta di Indonesia. Jumlah pengguna Facebook mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya sebesar 82 juta pengguna pada kuartal keempat 2015. Para pengguna gadget Indonesia rata-rata mengecek ponselnya lebih dari 80 kali setiap hari. Sebanyak 14 kali dari jumlah itu adalah untuk menengok Facebook.

Sesuai laporan riset We Are Social dan Hootsuite yang dirilis di LinkedIn, Jumat (21/4/2017), Indonesia berada di posisi 4 di dunia dengan pengguna Facebook paling aktif. Namun, bagaimana dengan masyarakat pelosok? Tentu berbeda dengan masyarakat kota.

Era digital harus ada konversi makna dari manual ke digital. Lipton dan Hubble (2016:13) menjelaskan literasi tidak sekadar kemampuan elementer membaca, menulis dan berhitung. Literasi dalam pengertian modern mencakup kemampuan berbahasa, berhitung, memaknai gambar, melek komputer, dan berbagai upaya mendapatkan ilmu pengetahuan.

Artinya, aktivitas dan usaha mendapatkan ilmu pengetahuan adalah bentuk literasi. Bisa menonton televisi, membaca berita online, atau menonton video di Youtube. Dengan konsumsi internet berlebihan, mengapa kualitas keaksraan di Indonesia masih minim? Tentu ada yang salah.

Masalahnya, apa yang mereka baca? Berkualitaskah bacaannya? Apakah mereka tahu metode membaca yang baik dan bisa meningkatkan kualitas hidup? Apakah mereka bisa menyikapi berita hoax dan fake?

Melihat karakter netizen kita yang suka keviralan, membaca “judul” beritanya saja dan mudah membagikan tanpa proses tabayun, tampaknya masyarakat milenial kita masih di tahap pra literasi. Mereka belum sampai posisi era literasi apalagi pasca literasi.

Era banjir informasi harus menjadikan masyarakat selektif memilih informasi. Kualitas pendidikan dan jabatan tidak menjadi jaminan melek literasi digital. Sebagai contoh, mantan Menkominfo Tifatul Sembiring dan Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain pernah menyebar foto dan postingan hoax tentang Rohingya

Hal itulah yang seharusnya menjadi fokus literasi. Saat ini kita butuh program percepatan literasi dan revolusi literasi digital. Apalagi masyarakat milenial selalu praktis dan instan dalam mengonsumsi berita. Mereka tidak mau klarifikasi, dan asal membagikan postingan ketika ada berita viral dan bombastis.

Literasi harus direvolusi untuk mencerdaskan masyarakat milenial.